![]() |
doc. kominfo |
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) UIN Walisongo Semarang Divisi Pendidikan dan Penalaran (Diknal) selenggarakan Kajian Online pada Jum'at (14/03/2025) melalui Zoom Meeting.
Acara dimulai pukul 15.00 WIB yang dipandu oleh Naura Farissa Putri sebagai pembawa acara, dimoderatori oleh Ibnu Al Ghifari, Neneng Khaerunisa sebagai pemantik, serta dihadiri oleh seluruh pengurus HMJ PAI dan Republik Besan yang meliputi Mahasiswa berbagai Universitas di seluruh Indonesia.
Diadakannya acara ini bertujuan menjadi wadah untuk menyuarakan apa yang terjadi di negeri kita serta menjadi motivasi bagi mahasiswa supaya tidak diam saja.
Alvin Ramadhani, selaku ketua pelaksana acara kajian online ini menyampaikan harapan dalam sambutannya.
" Kami berharap acara ini dapat memperkaya wawasan dan perspektif kita di dunia pendidikan, serta mempererat tali silaturrahmi antar mahasiswa di berbagai Universitas di Indonesia," tuturnya.
Dilanjutkan sambutan oleh Ketua Republik Besan Muhammad Isa Daffa, Ia memberikan apresiasi terhadap semua pihak yang telah berkontribusi terselenggaranya acara kali ini.
"Saya sangat mengapresiasi terhadap semua pihak di acara ini, menurut data, kajian online ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta dan 22 berbagai Universitas di seluruh Indonesia," ujarnya.
Kegiatan dilanjut dengan pemaparan materi yang bertema 'Masa Depan Pendidikan. Efisiensi Anggaran atau Kualitas yang Dikorbankan?' oleh Neneng Khaerunisa.
"Semua kebijakan pemerintah tidak sepenuhnya mementingkan kepentingan masyarakat, namun untuk suatu golongan atau kita sebut oligarki, oligarki itu nyata di negeri ini," jelasnya.
![]() |
doc. kominfo |
Selang pertengahan pemaparan, beliau menjelaskan tentang apa yang perlu kita pelajari.
"Kita harus tau bahwa pemerintah sangat patuh terhadap orang pintar. Pemerintah itu musuh bagi orang pintar, sebab ia bisa membungkam kebijakan mereka yang semestinya tidak terealisasikan," tambahnya.
Diakhir sesi pemaparan, Neneng memberikan perbandingan terhadap pemerintah Indonesia dengan negara-negara besar di Eropa.
"Negara-negara di eropa itu berani memberikan pendidikan gratis, sebab itu menjadi salah satu tahap investasi, sedangkan negara kita malah mengurangi anggaran untuk pendidikan," tutupnya.
Acara dilanjut dengan berdiskusi oleh seluruh peserta, melalui pemaparan tadi, Neneng berhasil menarik para peserta untuk menyuarakan pendapatnya, sehingga membuat kajian online kali ini menjadi pecah dan sedikit memanas.
Acara selesai pukul 17.15 WIB dan ditutup dengan sesi foto bersama.
Penulis : Wildan Muhlisin (Kominfo HMJ PAI UIN Walisongo Semarang)